BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Penyakit jantung koroner adalah
penyakit yang terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh nadi koroner
karena adanya endapan lemak dan kolesterol sehingga mengakibatkan penyediaan
darah ke jantung terganggu. Pernyempitan tersebut dapat terjadi karena
fangsangan tertentu pada pola hidup, pola makan, dan stres (Lapau, 2012,
hal. 245)
Salah satu penyebab pjk adalah
hipertensi, yang dianggap sebagai penyebab kematian. Komplikasi hipertensi yang
akhirnya menyebabkan kematian adalah karena kegagalan jantung 45%, infark
miokard 35%, kecelakaan serebrovaskular 15%, gagal ginjal 5%. Komplikasi yang
sering terjadi adalah kegagalan ventrikel kiri, Angina pictoris dan infark
myokart. (Lapau, 2012, hal. 245)
B. Rumusan Masalah
1. Apa
defenisi dari penyakit jantung koroner ?
2. Apa
etiologi dari penyakit jantung koroner ?
3. Bagaimana
potofisiologinya dari penyakit jantung koroner ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui definisi penyakit jantung koroner
2. Untuk
mengetahui etiologi penyakit jantung koroner
3. Untuk
mengetahui patofisiologi penyakit jantung koroner
Bab II
PEMBAHASAN
A. Konsep
Dasar Penyakit Jantung Koroner
1.
Pengertian Penyakit Jantung
Koroner
Penyakit
jantung koroner (PJK) adalah suatu kondisi dimana ketidak seimbangan antara
suplai darah ke otot jantung berkurang sebagai akibat tersumbatnya pembuluh
darah arteri koronaria dengan penyebab tersering adalah aterosklerosis (Wijaya
dkk, 2013). PJK merupakan gangguan fungsi jantung akibat otot jantung
kekurangan darah dari penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis,
ditandai dengan nyeri dada terasa tidak nyaman di dada atau dada terasa
tertekan berat ketika sedang mendaki juga pada kerja berat ataupun berjalan
terburuburu pada saat berjalan datar atau berjalan jauh (RISKESDAS, 2013).
Dapat
disimpulkan, PJK merupakan suatu penyakit pada organ jantung akibat penimbunan
plak berupa lipid atau jaringan fibrosa yang menghambat suplai oksigen dan
nutrisi ke bagian otot jantung sehingga menimbulkan kelelahan otot bahkan
kerusakan yang biasanya diproyeksikan sebagai rasa tidak enak oleh klien secara
subyektif seperti rasa ditekan benda berat, ditindih, dan ditusuk.
2. Etiologi
Secara
spesifik, faktor- faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung
koroner
menurut Suharjo (2008) adalah:
a. Berusia lebih dari 45 tahun
(bagi pria).
Sangat penting bagi kaum pria mengetahui usia
rentan terkena penyakit jantung koroner.
b. Berusia lebih dari dari 55
tahun atau mengalami menopause dini sebagai akibat
operasi (bagi wanita).
Wanita yang telah mengalami menopause secara
fisiologis ataupun secara dini (pascaoperasi) lebih kerap terkena penyakit
jantung koroner apalagi ketika usia wanita itu telah menginjak usia lanjut.
c. Riwayat penyakit jantung
dalam keluarga.
Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
sering merupakan akibat dari profil kolesterol yang tidak normal, dalam artian
terdapat kebiasaan yang buruk dalam segi diet keluarga.
d. Diabetes.
Kebanyakan penderita diabetes meninggal
bukanlah karena meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi
ke jantung mereka.
e. Merokok.
Merokok telah disebut-sebut sebagai salah
satu faktor resiko utama penyakit jantung koroner.Kandungan nikotin di dalam
rokok dapat merusak endotel pembuluh darah sehingga mendukung terbentuknya
timbunan lemak yang akhirnya terjadi sumbatan pembuluh darah.
f. Tekanan darah tinggi.
Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan
menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria,
sehingga memudahkan terjadinya atherosclerosis coroner yang merupakan penyebab
penyakit jantung coroner.
g. Kegemukan (obesitas).
Obesitas bias merupakan manifestasi dari
banyaknya lemak yang terkandung di dalam tubuh. Seseorang yang obesitas lebih
menyimpan kecenderungan terbentuknya plak yang merupakan cikal bakal terjadinya
penyakit jantung koroner.
h. Gaya hidup buruk.
Gaya hidup yang buruk terutama dalam hal
jarangnya olahraga ringan yang rutin serta pola makan yang tidak dijaga akan
mempercepat seseorang terkena penyakit jantung kororner.
i.
Stress.
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan
bahwa bila menghadapi situasi yang tegang, dapat terjadi aritmia jantung yang
membahayakan jiwa.
3. Patofisiologi
Patofisiologi
dari PJK dimulai dari adanya aterosklerosis atau pengerasan arteri dari penimbunan
endapan lipid, trombosit, neutrofil, monosit dan makrofag di seluruh kedalaman
tunika intima (lapisan sel endotel) sampai akhirnya ke tunika medika (lapisan
otot polos).Arteri yang paling sering terkena adalah arteri koronaria (Potter
& Perry, 2010).
Kondisi
ini dapat terjadi setelah cedera pada sel endotel atau dari stimulus lain,
cedera pada sel endotel meningkatkan permeabelitas terhadap berbagai komponen
plasma, termasuk asam lemak dan triglesirida. Kolesterol dan lemak plasma
mendapat akses ke tunika intima karena permeabilitas lapisan endotel meningkat,
pada tahap indikasi dini kerusakan teradapat lapisan lemak diarteri.
Patofisiologi nyeri dada yang bersifat akut berawal dari ketidakseimbangan
suplai oksigen dan nutrisi ke bagian miokard jantung berkurang yang menyebabkan
terjadinya metabolisme secara anaerob yang menghasilkan asam laktat sehingga
terjadi nyeri serta fatique pada penderita penyakit jantung koroner (Padila,
2013).
Proses
pembentukan energi ini sangat tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam
laktat sehinga menurunkan pH miokardium dan menyebabkan nyeri dada yang
berkaitan dengan angina pektoris. Ketika kekurangan oksigen pada jantung dan
sel-sel otot jantung berkepanjangan dan iskemia miokard yang tidak tertasi maka
terjadilah kematian otot jantung yang dikenal sebagai miokard infark (Potter
& Perry, 2010).
Iskemia
adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bersifat sementara dan reversible.
Manifestasi hemodinamika yang sering terjadi adalah peningkatan ringan tekanan
darah dan denyut jantung sebelum timbul nyeri dada yang bersifat akut. Ini
merupakan respon kompensasi simpatis terhadap berkurangnya fungsi miokardium.
Angina pektoris adalah nyeri dada yang menyertai iskemia miokardium, angina
sering dipicu oleh aktifitas yang meningkatkan kebutuhan miokardium akan
oksigen, seperti latihan fisik dan hilang selama beberapa menit dengan
istirahat atau pemberian nitrogliserin. Iskemia yang berlangsung lebih dari
30-45 menit akan menyebabkan kerusakan seluler yang irreversibel dan kematian
otot atau nekrosis inilah yang disebut infark. Secara fungsional infark
miokardium akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti daya kembang dinding
ventrikel, pengurangan curah sekuncup, pengurangan fraksi ejeksi, peningkatan
volume akhir diastolik ventrikel kiri (Price, 2006).
Pelepasan
neurotransmitter eksitatori seperti prostaglandin, bradikinin, kalium,
histamin, dan substansi P akibat menurunya pH jantung dan kerusakan sel.
Subtansi yang peka terhadap nyeri terdapat pada serabut nyeri di cairan
ekstraseluler, menyebarkan “pesan” adanya nyeri dan menyebabkan inflamasi
(Potter & Perry, 2010).
Serabut
nyeri memasuki medulla spinalis melalui tulang belakang melewati beberapa rute
hingga berakhir di gray matter (lapisan abu-abu) medulla spinalis.Setelah
impuls-impuls nyeri berjalan melintasi medulla spinalis, thalamus
menstransmisikan informasi ke pusat yang lebih tinggi di otak, sistem limbik;
korteks 13 somatosensori; dan gabungan korteks. Ketika stimulus nyeri mencapai
korteks serebral, maka otak mengintepretasikan kualitas nyeri dan merespon
informasi dari pengalaman yang telah lalu, pengetahuan, serta faktor budaya
yang berhubungan dengan persepsi nyeri. Sesaat setelah otak menerima adanya
stimulus nyeri, terjadi pelepasan neurotransmitter inhibitor seperti opiud
endonegeus (endorphin dan enkefalin), serotonin (5HT), norepinefrin, dan asam
aminobutirik gamma (GABA) yang bekerja untuk menghambat transmisi nyeri dan
membantu menciptakan efek analgesik (Potter & Perry, 2010).
4. Tanda
dan Gejala
Menurut
Suharjo (2008), tanda dan gejala dari penyakit jantung koroner yaitu:
a. Nyeri dada
b. Sesak napas
c. Kelelahan atau kepenatan
d. Palpitasi
e. Pusing dan pingsan
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
diagnostik meliputi pemeriksaan EKG 12 lead yang dikerjakan waktu istirahat
pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium terutama untuk menemukan
faktor risiko, pemeriksaan ekocardiografi dan radio nuclide miokardial imaging
(RNMI) waktu isitirahat dan stress fisis ataupun obat-obatan, sampai
ateriografi koroner dan angiografi ventrikel kiri (Wijaya dkk: 4, 2013).
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan selama
terjadinya episode nyeri adalah, pantau takikardi atau disritmia dengan
saturasi, rekam EKG lengkap T inverted, ST elevasi atau depresi dan Q
patologis, pemeriksaan laboratorium kadar enzim jantung Creatinin kinase(CK),
Creatinin kinase M-B(CKMB), Laktat dehidrogenase (LDH), fungsi hati serum
glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvate
transaminase (SGPT), profil lipid Low desinty lipoprotein (LDL) dan High
desinty lipoprotrein (HDL), foto thorax, echocardiografi, kateterisasi jantung.
(Padila, 2013). 14 Fokus perawat adalah pain management atau mengontrol nyeri,
melakukan pengkajian terus-menerus, melaporkan gejala, serta memberikan pasien
dan keluarga penyuluhan (Hudak, 2012).
Bab III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Laki laki merupakan 70% dari pasien dengan Angina Pektoris
dan bahkan sebagian besar menyerang pada laki laki kurang lebihnya 50 tahun dan
wanita 60 tahun. Namun, saat ini ada kecenderungan penyakit ini juga diderita
oleh pasien dibawah usia 40 tahun. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 194)
2. Status kesehatan saat ini
a. Keluhan utama
Ditandai oleh rasa nyeri yang terjadi jika kebutuhan oksigen
miokardium melebihi suplainya. Iskemia miokard dapat bersifat asimtomatis
(iskemia sunyi/silent ischemia), terutama pada pasien diabetes. (Prabowo
& Pranata, 2017)
b. Alasan masuk rumah sakit
Pasien merasakan nyeri dada selama 3-5 hari berturut-turut sehingga
dia memeriksakan dirinya ke rumah sakit untuk mengetahui penyakitnya, ternyata
dia di fonis menderita penyakit jantung koroner (PJK). (Manurung, 2016,
hal. 22)
3. Riwayat penyakit sekarang
Pada klien PJK merasakan nyeri dada.
4. Riwayat kesehatan terdahulu
a. Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit yang yang mendahului terjadi penyakit
jantung koroner adalah hipertensi, merokok, pengguna alkohol, diabetes militus,
kolesterol, pola hidup yang tidak sehat. (Prabowo & Pranata, 2017,
hal. 195)
5. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat dalam keluarga biasanya pada laki-laki keturunan
keluarga pertama yang berusia <55 tahun, pada perempuan keturunan keluarga
pertama berusia < 65 tahun. (Setiati, 2014, hal. 142)
6. Pemeriksaan
Fisik
a. Keadaan
umum
Biasanya Klien dengan
penyakit jantung koroner akan datang dengan adanya keluhan sesak nafas berat,
dengan keadaan umum yang buruk misalnya dengan tampak sakit berat
b. Kesadaran
Pada umumnya tingkatan
kesadaran terdiri dari enam tingkatan yaitu :
1) Kompos
mentis: sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan
sekelilingnya (GCS 15-14)
2) Apatis:
keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan kehidupan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh (GCS 13-12).
3) Somnolen:
keadaan kesadaran yang mau tidur saja dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri
akan tetapi jatuh tidur lagi (GCS 11-10).
4) Delirium:
keadaan kacau motorik seperti memberontak dan tidak sadar terhadap orang lain,
tempat dan waktu (GCS 9-7).
5) Sopor:
keadaan kesadaran yang menyerupai koma, reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan
rangsang nyeri (GCS 9-7).
6) Koma:
keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan
rangsang apapun (GCS < 7)
c. Tanda-tanda
vital
1) Tekanan darah
2) Pemeriksaan denyut nadi
3) Pemeriksaan suhu
4) Pemeriksaan respirasi
d. Sistem penginderaan
1) Mata,pada pasien PJK mata mengalami
pandangan kabur
2) Telinga, hidung, dan tenggorokan
pada pasien PJK tidak mengalami gangguan
3) Mulut, pada paien PJK ditemukan
adanya mukosa pada mulut dan bibir. . (Dewi, 2014, hal 20)
e. Sistem pernafasan
Pada pemeriksaan mungkin didapatkan
peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes
atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda / pink tinged. (Prabowo
& Pranata, 2017, hal. 195)
f. Sistem kardiovaskular
Hipotensi postural, frekuensi
jantung meningkat, takipnea. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi
mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia. Suara
jantung, suara jantung tambahan s3 atau s4 mungkin mencerminkan terjadinya
kegagalan jantung / ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur jika ada
merupakan akibat dari insuflensi katub atau muskulus papilaris yang tidak
berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau mengalami penurunan (tachy atau
bradi cardia). Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Odema anasarka,
crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. (Prabowo & Pranata,
2017, hal. 195)
g. Sistem persarafan
Edema : jagular vena distension,
(Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)
h. Sistem perkemihan
Gangguan ginjal saat ini atau sebelumnya,
disuria, oliguria, anuria, poliuria sampai hematuria. (Prabowo & Pranata,
2017, hal. 195)
i.
Sistem
pencernaan
Mual, kehilangan nafsu makan,
muntah, perubahan berat badan. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)
j.
Sistem
integument
Warna kulit mungkin pucat baik
dibibir dan dikuku, penurunan turgor kulit. (Prabowo & Pranata, 2017, hal.
195)
k. Sistem musculoskeletal
Pada klien PJK adanya kelemahan otot
sehingga timbul ketidakmampuan melakukan aktivitas yang diharapkan atau
aktivitas yang biasanya dilakukan. (Dewi, 2014, hal 20)
l.
Sistem
endokrin
Pada pasien PJK biasanya terdapat
peningkatan kadar gula darah. (Dewi, 2014, hal 20)
m. Sistem reproduksi
Pada pasien PJK akan mengalami
penurunan jumlah produksi urine dan frekuensi urine. (Dewi, 2014, hal 20)
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yaitu pernyataan yang menguraikan
respon insani (status kesehatan atau perubahan pola interaksi aktual potensial)
individu atau kelompok yang perawat dapat membuat intervensi yang pasti demi
kelestarian status kesehatan atau mengurangi, menghilangkan atau mencegah
perubahan-perubahan (Carpenito, 2009).
Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien
dengan penyakit jantung koroner menurut Doengoes (2005) adalah:
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri
koronaria.
2.
Intoleransi aktivitas berhubungan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang
nekrotik dan iskemiapada miokard.
3.
Ansietas berhubungan dengan krisis
situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status
kesehatan.
4.
Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
5.
Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
6.
Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi tentang implikasi penyakit jantung dan status kesehatan
yang akan datang.
C. Perencanaan
Perencanaan adalah acuan tertulis sebagai intervensi
keperawatan yang direncanakan agar dapat mengatasi diagnosa keperawatan
sehingga pasien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (Doengoes, 2005).
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.
a.
Tujuan
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam klien di harapkan mampu
menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penurunan
tekanan dan cara berelaksasi
b.
Kriteria hasil
Nyeri
dada hilang
2.
Intoleransi
aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen,
adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard.
a.
Tujuan
Setelah
di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien
menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah,
nadi, irama dalam batas normal), tidak adanya angina
b.
Kriteria hasil
Mendemonstrasikan
peningkatan toleransi aktivitas yang bisa diukur.
3.
Ansietas
berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman
terhadap perubahan status kesehatan.
a.
Tujuan
Setelah
di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, ansietas dapat teratasi.
b.
Kriteria hasil
1)
Menyatakan penurunan ansietas
2)
Mendemonstrasikan keterampilan
pemecahan masalah positif
3)
Mengidentifikasi sumber secara
cepat.
4.
Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
a.
Tujuan
Tidak
terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
b.
Kriteria hasil
Nyeri
dada hilang
5.
Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
a.
Tujuan
Selama
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, tidak terjadi
penurunan perfusi jaringan
b.
Kriteria hasil
1)
Perfusi
jaringan menjadi adekuat
2)
Kulit hangat dan kering
3)
Nadi perifer teraba
4)
Tanda-tanda vital dalambatas normal
5)
Tidak
ada nyeri
6.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
tentang fungsi jantung/implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan
datang.
a.
Tujuan
Selama
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam beberapa hari kurang
pengetahuan teratasi.
b.
Kriteria hasil
Menyatakan
peahaman tentang penyakit jantung.
D. Intervensi
1. Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan
pada arteri koronaria
a.
Monitor dan kaji karakteristik dan
lokasi nyeri.
b.
Monitor tanda-tanda vital (tekanan
darah, nadi, respirasi, kesadaran).
c.
Anjurkan
pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
d.
Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen
dan obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesik).
e.
Berikan obat sesuai indikasi
(antiangina)
2.
Intoleransi aktivitas berhubungan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang
nekrotik dan iskemiapada miokard.
a.
Catat irama jantung, tekanan darah
dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
b.
Anjurkan pada pasien agar lebih
banyak beristirahat terlebih
dahulu.
c.
Anjurkan pada pasien agar tidak
mengedan pada saat buang air besar (BAB).
d.
Jelaskan pada pasien tentang tahap-
tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
3.
Ansietas berhubungan dengan krisis
situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status
kesehatan
a.
Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman
b.
Catat adanya kegelisahan, menolak
dan menyangkal.
c.
Kaji tanda verbal dan non verbal.
d.
Dorong pasien atau orang terdekat
untuk mengkomunikasikan berbagai pertanyaan dan masalah.
e.
Berikan
privasi untuk pasien dan orang terdekat.
4.
Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan
dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau
peningkatan SVR, miocardial infark.
a.
Lakukan pengukuran tekanan darah
(bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika
memungkinkan).
b.
Kaji kualitas nadi.
c.
Auskultasi suara nafas.
d.
Sajikan
makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
e.
Kolaborasi dalam : pemeriksaan serial EKG, foto thorax, pemberian
obat-obatan anti disritmia.
5.
Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
a.
Pantau adanya pucat,sianosis,kulit
dingin/lembab,catat kekuatan nadi perifer.
b.
Kaji
tanda hormon (nyeripada betis dengan posisi dorsolfleksi),eritema,edema.
c.
Pantau pernapasan,catat kerja
pernapasan
d.
Catat pemasukan dan catat perubahan
haluan urine.
e.
Berikan obat sesuai
indikasi,misalnya heparin,natrium wafarin.
6.
Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi tentang implikasi
penyakit
jantung dan status kesehatan yang akan datang.
a.
Kaji tingkat pengetahuan pasien
b.
Berikan informasi dalam bentuk yang
bervariasi
c.
Beri penguatan penjelasan faktor
resiko.
d.
Beri tekanan pentingnya menghubungi
dokter bila nyeri dada
Rasional
E. Implementasi
Implementasi
adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan meliputi tindakan-tindakan
yang telah direncanakan, melaksanakan anjuran–anjuran dokter dan menjalankan
ketentuan rumah sakit. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana yang
telah ditetapkan dengan harapan mengatasi masalah yang dihadapi klien. Catatan
yang dibuat dalam implementasi merupakan sumber yang ditujukan untuk evaluasi
keberhasilan tindakan perawatan yang telah direncanakan sebelumnya (Hidayat,
2009).
F. Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan.
Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah
direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria
hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi terdiri dari dua komponen
yaitu data yang tercatat yang menyatakan status kesehatan sekarang dan
pernyataan konklusi yang menyatakan efek dari tindakan yang diberikan pada
klien (Hidayat, 2009).
Dalam evaluasi, proses perkembangan klien dinilai selama 24
jam terus menerus yang ditulis dalam bentuk catatan atau laporan keperawatan
yang ditulis oleh perawat jaga sebelum mengakhiri jam dinasnya (Hidayat, 2009).
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP
sebagai pola pikir yaitu sebagai berikut :
1.
S : Respon subyektif klien
terhadap intervensi yang dilaksanakan.
2.
O : Respon obyektif klien terhadap
intervensi yang dilaksanakan.
3.
A : Analisa
ulang atas data subyektif
dan data obyektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih tetap atau ada masalah baru.
4.
P : Perencanaan atau tindak lanjut
berdasarkan hasil analisa pada respon
Adapun yang dievaluasi adalah sebagai berikut:
a.
Apakah nyeri teratasi ?
b.
Apakah
intoleransi aktivitas teratasi ?
c.
Apakah ansietas teratasi?
d.
Apakah
perubahan curah jantung teratasi?
e.
Apakah
perubahan perfusi jaringan teratasi?
f.
Apakah
kurang pengetahuan teratasi?
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yng menyerang
organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang
dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga salah
satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK terjadi karena adanya faktor
resiko yang antara lain adalah gaya hidup yang kurang aktivitas fisik
(olahraga), riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor
sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner ini dapat dicegah dengan
melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor resiko.seperti pola
makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan olehraga
secara teratur, menghindari stress kerja.
Kadar kolesterol yang tinggi lebih dominan terjadi pada
pekerja kantoran dibandingkan dengan pekerja kasar. Terdapat perbedaan yang
signifikan kadar kolesterol pada pekerja kantoran dan pekerja kasar. Pada
pekerja dengan aktivitas rendah perlu kiranya melakukan control terhadap kadar
kolesterol darah dan menjaga jenis makanan yang dikonsumsi rendah kolesterol.
Berolahraga secara rutin perlu dilakukan untuk menjaga kelancaran peredaran
darah dan keseimbangan metabolisme.
B.
Saran
Penyakit Jantung
Koroner dapat menyerang kepada siapa saja, bukan hanya kepada usia lanjut saja,
namun pada usia yang masih sangat muda sekalipun penyakit jantung dapat
menyerang. Jadi, apabila kita tidak ingin terkena penyakit berbahaya ini maka
kita harus mualai dengan berperilaku hidup sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar