Sabtu, 29 Mei 2021

MAKALAH JANTUNG KORONER

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh nadi koroner karena adanya endapan lemak dan kolesterol sehingga mengakibatkan penyediaan darah ke jantung terganggu. Pernyempitan tersebut dapat terjadi karena fangsangan tertentu pada pola hidup, pola makan, dan stres (Lapau, 2012, hal. 245)

Salah satu penyebab pjk adalah hipertensi, yang dianggap sebagai penyebab kematian. Komplikasi hipertensi yang akhirnya menyebabkan kematian adalah karena kegagalan jantung 45%, infark miokard 35%, kecelakaan serebrovaskular 15%, gagal ginjal 5%. Komplikasi yang sering terjadi adalah kegagalan ventrikel kiri, Angina pictoris dan infark myokart. (Lapau, 2012, hal. 245)

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa defenisi dari penyakit jantung koroner ?

2.      Apa etiologi dari penyakit jantung koroner ?

3.      Bagaimana potofisiologinya dari penyakit jantung koroner ?

C.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui definisi penyakit jantung koroner

2.      Untuk mengetahui etiologi penyakit jantung koroner

3.      Untuk mengetahui patofisiologi penyakit jantung koroner

 

 

                                                                                  

 

 

 

Bab II

PEMBAHASAN

A.    Konsep Dasar Penyakit Jantung Koroner

1.      Pengertian Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah suatu kondisi dimana ketidak seimbangan antara suplai darah ke otot jantung berkurang sebagai akibat tersumbatnya pembuluh darah arteri koronaria dengan penyebab tersering adalah aterosklerosis (Wijaya dkk, 2013). PJK merupakan gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah dari penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada terasa tidak nyaman di dada atau dada terasa tertekan berat ketika sedang mendaki juga pada kerja berat ataupun berjalan terburuburu pada saat berjalan datar atau berjalan jauh (RISKESDAS, 2013).

Dapat disimpulkan, PJK merupakan suatu penyakit pada organ jantung akibat penimbunan plak berupa lipid atau jaringan fibrosa yang menghambat suplai oksigen dan nutrisi ke bagian otot jantung sehingga menimbulkan kelelahan otot bahkan kerusakan yang biasanya diproyeksikan sebagai rasa tidak enak oleh klien secara subyektif seperti rasa ditekan benda berat, ditindih, dan ditusuk.

2.      Etiologi

Secara spesifik, faktor- faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung

koroner menurut Suharjo (2008) adalah:

a.       Berusia lebih dari 45 tahun (bagi pria).

Sangat penting bagi kaum pria mengetahui usia rentan terkena penyakit jantung koroner.

 

 

 

 

b.      Berusia lebih dari dari 55 tahun atau mengalami menopause dini sebagai akibat

operasi (bagi wanita).

Wanita yang telah mengalami menopause secara fisiologis ataupun secara dini (pascaoperasi) lebih kerap terkena penyakit jantung koroner apalagi ketika usia wanita itu telah menginjak usia lanjut.

c.       Riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Riwayat penyakit jantung dalam keluarga sering merupakan akibat dari profil kolesterol yang tidak normal, dalam artian terdapat kebiasaan yang buruk dalam segi diet keluarga.

d.      Diabetes.

Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi ke jantung mereka.

e.       Merokok.

Merokok telah disebut-sebut sebagai salah satu faktor resiko utama penyakit jantung koroner.Kandungan nikotin di dalam rokok dapat merusak endotel pembuluh darah sehingga mendukung terbentuknya timbunan lemak yang akhirnya terjadi sumbatan pembuluh darah.

f.       Tekanan darah tinggi.

Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya atherosclerosis coroner yang merupakan penyebab penyakit jantung coroner.

g.      Kegemukan (obesitas).

Obesitas bias merupakan manifestasi dari banyaknya lemak yang terkandung di dalam tubuh. Seseorang yang obesitas lebih menyimpan kecenderungan terbentuknya plak yang merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung koroner.

h.      Gaya hidup buruk.

Gaya hidup yang buruk terutama dalam hal jarangnya olahraga ringan yang rutin serta pola makan yang tidak dijaga akan mempercepat seseorang terkena penyakit jantung kororner.

i.         Stress.

Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa bila menghadapi situasi yang tegang, dapat terjadi aritmia jantung yang membahayakan jiwa.

 

 

3.      Patofisiologi

Patofisiologi dari PJK dimulai dari adanya aterosklerosis atau pengerasan arteri dari penimbunan endapan lipid, trombosit, neutrofil, monosit dan makrofag di seluruh kedalaman tunika intima (lapisan sel endotel) sampai akhirnya ke tunika medika (lapisan otot polos).Arteri yang paling sering terkena adalah arteri koronaria (Potter & Perry, 2010).

Kondisi ini dapat terjadi setelah cedera pada sel endotel atau dari stimulus lain, cedera pada sel endotel meningkatkan permeabelitas terhadap berbagai komponen plasma, termasuk asam lemak dan triglesirida. Kolesterol dan lemak plasma mendapat akses ke tunika intima karena permeabilitas lapisan endotel meningkat, pada tahap indikasi dini kerusakan teradapat lapisan lemak diarteri. Patofisiologi nyeri dada yang bersifat akut berawal dari ketidakseimbangan suplai oksigen dan nutrisi ke bagian miokard jantung berkurang yang menyebabkan terjadinya metabolisme secara anaerob yang menghasilkan asam laktat sehingga terjadi nyeri serta fatique pada penderita penyakit jantung koroner (Padila, 2013).

Proses pembentukan energi ini sangat tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam laktat sehinga menurunkan pH miokardium dan menyebabkan nyeri dada yang berkaitan dengan angina pektoris. Ketika kekurangan oksigen pada jantung dan sel-sel otot jantung berkepanjangan dan iskemia miokard yang tidak tertasi maka terjadilah kematian otot jantung yang dikenal sebagai miokard infark (Potter & Perry, 2010).

Iskemia adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bersifat sementara dan reversible. Manifestasi hemodinamika yang sering terjadi adalah peningkatan ringan tekanan darah dan denyut jantung sebelum timbul nyeri dada yang bersifat akut. Ini merupakan respon kompensasi simpatis terhadap berkurangnya fungsi miokardium. Angina pektoris adalah nyeri dada yang menyertai iskemia miokardium, angina sering dipicu oleh aktifitas yang meningkatkan kebutuhan miokardium akan oksigen, seperti latihan fisik dan hilang selama beberapa menit dengan istirahat atau pemberian nitrogliserin. Iskemia yang berlangsung lebih dari 30-45 menit akan menyebabkan kerusakan seluler yang irreversibel dan kematian otot atau nekrosis inilah yang disebut infark. Secara fungsional infark miokardium akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti daya kembang dinding ventrikel, pengurangan curah sekuncup, pengurangan fraksi ejeksi, peningkatan volume akhir diastolik ventrikel kiri (Price, 2006).

Pelepasan neurotransmitter eksitatori seperti prostaglandin, bradikinin, kalium, histamin, dan substansi P akibat menurunya pH jantung dan kerusakan sel. Subtansi yang peka terhadap nyeri terdapat pada serabut nyeri di cairan ekstraseluler, menyebarkan “pesan” adanya nyeri dan menyebabkan inflamasi (Potter & Perry, 2010).

Serabut nyeri memasuki medulla spinalis melalui tulang belakang melewati beberapa rute hingga berakhir di gray matter (lapisan abu-abu) medulla spinalis.Setelah impuls-impuls nyeri berjalan melintasi medulla spinalis, thalamus menstransmisikan informasi ke pusat yang lebih tinggi di otak, sistem limbik; korteks 13 somatosensori; dan gabungan korteks. Ketika stimulus nyeri mencapai korteks serebral, maka otak mengintepretasikan kualitas nyeri dan merespon informasi dari pengalaman yang telah lalu, pengetahuan, serta faktor budaya yang berhubungan dengan persepsi nyeri. Sesaat setelah otak menerima adanya stimulus nyeri, terjadi pelepasan neurotransmitter inhibitor seperti opiud endonegeus (endorphin dan enkefalin), serotonin (5HT), norepinefrin, dan asam aminobutirik gamma (GABA) yang bekerja untuk menghambat transmisi nyeri dan membantu menciptakan efek analgesik (Potter & Perry, 2010).

4.      Tanda dan Gejala

Menurut Suharjo (2008), tanda dan gejala dari penyakit jantung koroner yaitu:

a.    Nyeri dada

b.   Sesak napas

c.    Kelelahan atau kepenatan

d.   Palpitasi

e.    Pusing dan pingsan

5.      Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan diagnostik meliputi pemeriksaan EKG 12 lead yang dikerjakan waktu istirahat pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium terutama untuk menemukan faktor risiko, pemeriksaan ekocardiografi dan radio nuclide miokardial imaging (RNMI) waktu isitirahat dan stress fisis ataupun obat-obatan, sampai ateriografi koroner dan angiografi ventrikel kiri (Wijaya dkk: 4, 2013).

 Pemeriksaan penunjang yang dilakukan selama terjadinya episode nyeri adalah, pantau takikardi atau disritmia dengan saturasi, rekam EKG lengkap T inverted, ST elevasi atau depresi dan Q patologis, pemeriksaan laboratorium kadar enzim jantung Creatinin kinase(CK), Creatinin kinase M-B(CKMB), Laktat dehidrogenase (LDH), fungsi hati serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvate transaminase (SGPT), profil lipid Low desinty lipoprotein (LDL) dan High desinty lipoprotrein (HDL), foto thorax, echocardiografi, kateterisasi jantung. (Padila, 2013). 14 Fokus perawat adalah pain management atau mengontrol nyeri, melakukan pengkajian terus-menerus, melaporkan gejala, serta memberikan pasien dan keluarga penyuluhan (Hudak, 2012).

 

 

Bab III

ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

1.      Identitas

Laki laki merupakan 70% dari pasien dengan Angina Pektoris dan bahkan sebagian besar menyerang pada laki laki kurang lebihnya 50 tahun dan wanita 60 tahun. Namun, saat ini ada kecenderungan penyakit ini juga diderita oleh pasien dibawah usia 40 tahun. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 194)

2.      Status kesehatan saat ini

a.       Keluhan utama

Ditandai oleh rasa nyeri yang terjadi jika kebutuhan oksigen miokardium melebihi suplainya. Iskemia miokard dapat bersifat asimtomatis (iskemia sunyi/silent ischemia), terutama pada pasien diabetes. (Prabowo & Pranata, 2017)

b.      Alasan masuk rumah sakit

Pasien merasakan nyeri dada selama 3-5 hari berturut-turut sehingga dia memeriksakan dirinya ke rumah sakit untuk mengetahui penyakitnya, ternyata dia di fonis menderita penyakit jantung koroner (PJK). (Manurung, 2016, hal. 22)

3.      Riwayat penyakit sekarang

Pada klien PJK merasakan nyeri dada.

4.      Riwayat kesehatan terdahulu

a.       Riwayat penyakit sebelumnya

Riwayat penyakit yang yang mendahului terjadi penyakit jantung koroner adalah hipertensi, merokok, pengguna alkohol, diabetes militus, kolesterol, pola hidup yang tidak sehat. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

5.      Riwayat penyakit keluarga

Riwayat dalam keluarga biasanya pada laki-laki keturunan keluarga pertama yang berusia <55 tahun, pada perempuan keturunan keluarga pertama berusia < 65 tahun. (Setiati, 2014, hal. 142)

6.      Pemeriksaan Fisik

a.       Keadaan umum

Biasanya Klien dengan penyakit jantung koroner akan datang dengan adanya keluhan sesak nafas berat, dengan keadaan umum yang buruk misalnya dengan tampak sakit berat

b.      Kesadaran

Pada umumnya tingkatan kesadaran terdiri dari enam tingkatan yaitu :

1)      Kompos mentis: sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya (GCS 15-14)

2)      Apatis: keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan kehidupan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh (GCS 13-12).

3)      Somnolen: keadaan kesadaran yang mau tidur saja dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri akan tetapi jatuh tidur lagi (GCS 11-10).

4)      Delirium: keadaan kacau motorik seperti memberontak dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu (GCS 9-7).

5)      Sopor: keadaan kesadaran yang menyerupai koma, reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsang nyeri (GCS 9-7).

6)      Koma: keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan rangsang apapun (GCS  < 7)

c.       Tanda-tanda vital

1)      Tekanan darah

2)       Pemeriksaan denyut nadi

3)      Pemeriksaan suhu

4)      Pemeriksaan respirasi

d.      Sistem penginderaan

1)      Mata,pada pasien PJK mata mengalami pandangan kabur

2)      Telinga, hidung, dan tenggorokan pada pasien PJK tidak mengalami gangguan

3)      Mulut, pada paien PJK ditemukan adanya mukosa pada mulut dan bibir. . (Dewi, 2014, hal 20)

e.       Sistem pernafasan

Pada pemeriksaan mungkin didapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda / pink tinged. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

f.       Sistem kardiovaskular

Hipotensi postural, frekuensi jantung meningkat, takipnea. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia. Suara jantung, suara jantung tambahan s3 atau s4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung / ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur jika ada merupakan akibat dari insuflensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau mengalami penurunan (tachy atau bradi cardia). Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

g.      Sistem persarafan

Edema : jagular vena distension, (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

h.      Sistem perkemihan

Gangguan ginjal saat ini atau sebelumnya, disuria, oliguria, anuria, poliuria sampai hematuria. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

i.        Sistem pencernaan

Mual, kehilangan nafsu makan, muntah, perubahan berat badan. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

j.        Sistem integument

Warna kulit mungkin pucat baik dibibir dan dikuku, penurunan turgor kulit. (Prabowo & Pranata, 2017, hal. 195)

k.      Sistem musculoskeletal

Pada klien PJK adanya kelemahan otot sehingga timbul ketidakmampuan melakukan aktivitas yang diharapkan atau aktivitas yang biasanya dilakukan. (Dewi, 2014, hal 20)

l.        Sistem endokrin

Pada pasien PJK biasanya terdapat peningkatan kadar gula darah. (Dewi, 2014, hal 20)

m.    Sistem reproduksi

Pada pasien PJK akan mengalami penurunan jumlah produksi urine dan frekuensi urine. (Dewi, 2014, hal 20)

B.     Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yaitu pernyataan yang menguraikan respon insani (status kesehatan atau perubahan pola interaksi aktual potensial) individu atau kelompok yang perawat dapat membuat intervensi yang pasti demi kelestarian status kesehatan atau mengurangi, menghilangkan atau mencegah perubahan-perubahan (Carpenito, 2009).

Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan penyakit jantung koroner menurut Doengoes  (2005) adalah:

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.

2.      Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard.

3.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan.

4.      Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.

5.      Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.

6.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang.

C.     Perencanaan

Perencanaan adalah acuan tertulis sebagai intervensi keperawatan yang direncanakan agar dapat mengatasi diagnosa keperawatan sehingga pasien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (Doengoes, 2005).

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.

a.       Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penurunan tekanan dan cara berelaksasi

b.    Kriteria hasil

Nyeri dada hilang

2.       Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard.

a.       Tujuan

Setelah di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam,  klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal), tidak adanya angina

b.      Kriteria hasil

Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang bisa diukur.

 

3.       Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan.

a.       Tujuan

Setelah di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, ansietas dapat teratasi.

b.      Kriteria hasil

1)      Menyatakan penurunan ansietas

2)      Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah positif

3)      Mengidentifikasi sumber secara cepat.

4.      Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.

a.       Tujuan

Tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.

b.      Kriteria hasil

Nyeri dada hilang

5.      Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.

a.       Tujuan

Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, tidak terjadi penurunan perfusi jaringan

b.      Kriteria hasil

1)       Perfusi jaringan menjadi adekuat

2)      Kulit hangat dan kering

3)      Nadi perifer teraba

4)      Tanda-tanda vital dalambatas normal

5)       Tidak ada nyeri

6.         Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang fungsi jantung/implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang.

a.       Tujuan

Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam beberapa hari kurang pengetahuan teratasi.

b.      Kriteria hasil

Menyatakan peahaman tentang penyakit jantung.

 

D.    Intervensi

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria

a.       Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.

b.      Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).

c.        Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.

d.      Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesik).

e.       Berikan obat sesuai indikasi (antiangina)

2.      Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard.

a.       Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.

b.      Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.

c.       Anjurkan pada pasien agar tidak mengedan pada saat buang air besar (BAB).

d.      Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.

3.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan

a.        Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman

b.      Catat adanya kegelisahan, menolak dan menyangkal.

c.       Kaji tanda verbal dan non verbal.

d.      Dorong pasien atau orang terdekat untuk mengkomunikasikan berbagai pertanyaan dan masalah.

e.        Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat.

4.       Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.      

a.       Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).

b.      Kaji kualitas nadi.

c.         Auskultasi suara nafas.

d.       Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.

e.       Kolaborasi dalam : pemeriksaan serial EKG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.

 

5.      Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.

a.       Pantau adanya pucat,sianosis,kulit dingin/lembab,catat kekuatan nadi perifer.

b.       Kaji tanda hormon (nyeripada betis dengan posisi dorsolfleksi),eritema,edema.

c.       Pantau pernapasan,catat kerja pernapasan

d.      Catat pemasukan dan catat perubahan haluan urine.

e.       Berikan obat sesuai indikasi,misalnya heparin,natrium wafarin.

 

6.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang implikasi

penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang.

a.       Kaji tingkat pengetahuan pasien

b.      Berikan informasi dalam bentuk yang bervariasi

c.       Beri penguatan penjelasan faktor resiko.

d.      Beri tekanan pentingnya menghubungi dokter bila nyeri dada

Rasional

E.     Implementasi

Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan meliputi tindakan-tindakan yang telah direncanakan, melaksanakan anjuran–anjuran dokter dan menjalankan ketentuan rumah sakit. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana yang telah ditetapkan dengan harapan mengatasi masalah yang dihadapi klien. Catatan yang dibuat dalam implementasi merupakan sumber yang ditujukan untuk evaluasi keberhasilan tindakan perawatan yang telah direncanakan sebelumnya (Hidayat, 2009).

F.      Evaluasi

Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi terdiri dari dua komponen yaitu data yang tercatat yang menyatakan status kesehatan sekarang dan pernyataan konklusi yang menyatakan efek dari tindakan yang diberikan pada klien (Hidayat, 2009).

Dalam evaluasi, proses perkembangan klien dinilai selama 24 jam terus menerus yang ditulis dalam bentuk catatan atau laporan keperawatan yang ditulis oleh perawat jaga sebelum mengakhiri jam dinasnya (Hidayat, 2009).

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir yaitu sebagai berikut :

1.      S  : Respon subyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan.

2.      O : Respon obyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan.

3.      A : Analisa   ulang   atas  data   subyektif   dan   data   obyektif   untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau ada masalah baru.

4.      P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon

Adapun yang dievaluasi adalah sebagai berikut:

a.       Apakah nyeri teratasi ?

b.       Apakah intoleransi aktivitas teratasi ?

c.       Apakah ansietas teratasi?

d.       Apakah perubahan curah jantung teratasi?

e.        Apakah perubahan perfusi jaringan teratasi?

f.        Apakah kurang pengetahuan teratasi?

 


BAB  IV

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yng menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK terjadi karena adanya faktor resiko yang antara lain adalah gaya hidup yang kurang aktivitas fisik (olahraga), riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor resiko.seperti pola makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan olehraga secara teratur, menghindari stress kerja.

Kadar kolesterol yang tinggi lebih dominan terjadi pada pekerja kantoran dibandingkan dengan pekerja kasar. Terdapat perbedaan yang signifikan kadar kolesterol pada pekerja kantoran dan pekerja kasar. Pada pekerja dengan aktivitas rendah perlu kiranya melakukan control terhadap kadar kolesterol darah dan menjaga jenis makanan yang dikonsumsi rendah kolesterol. Berolahraga secara rutin perlu dilakukan untuk menjaga kelancaran peredaran darah dan keseimbangan metabolisme.

B.     Saran

Penyakit Jantung Koroner dapat menyerang kepada siapa saja, bukan hanya kepada usia lanjut saja, namun pada usia yang masih sangat muda sekalipun penyakit jantung dapat menyerang. Jadi, apabila kita tidak ingin terkena penyakit berbahaya ini maka kita harus mualai dengan berperilaku hidup sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anatomi fisiologi kulit

  Anatomi fisiologi kulit A.       Antomi kulit 1.       Lapisan Epidermis (kutikel) a.        Stratum Korneum (lapisan tanduk) :   la...